Hujan turun perlahan di luar, menciptakan suara menenangkan di jendela kamar hotel yang diterangi cahaya temaram. Di dalam, udara terasa hangat, diiringi aroma minyak esensial yang menguar dari diffuser di sudut ruangan.
Adrian duduk di kursi, menatap meja kayu tempat sebuah botol kecil berisi minyak pijat diletakkan. Ia baru saja tiba setelah perjalanan panjang, tubuhnya terasa tegang dan pegal. Saat bel pintu berbunyi, ia bangkit dan membuka pintu.
Di ambang pintu, berdiri seorang wanita muda dengan rambut panjang tergerai dan wajah lembut. Namanya Liana, terapis pijat profesional yang direkomendasikan oleh pihak hotel.
“Selamat malam, Pak Adrian,” sapanya ramah, matanya yang teduh memancarkan ketenangan.
Adrian mengangguk dan mempersilakannya masuk. Liana melangkah ringan ke dalam, menyiapkan peralatan yang ia bawa di meja kecil dekat ranjang.
“Silakan berbaring,” ucapnya lembut. “Saya akan mulai dari punggung.”
Adrian melepas kemejanya dan berbaring telungkup di atas ranjang dengan hanya handuk yang menutupi tubuhnya. Liana menuangkan minyak ke telapak tangannya, lalu mulai menyapukan jemarinya di bahu dan punggungnya dengan tekanan lembut.
Sentuhan itu terasa begitu hangat di kulitnya, menekan titik-titik yang tegang dengan gerakan yang lambat dan penuh perhatian. Napas Adrian melambat, tubuhnya mulai rileks seiring pijatan yang semakin dalam.
Namun, ada sesuatu dalam keheningan malam itu—sebuah ketegangan halus yang tak bisa diabaikan. Saat tangan Liana bergerak lebih jauh, menyusuri setiap otot yang menegang, Adrian merasakan sensasi yang berbeda.
Ia membuka mata perlahan, menoleh sedikit ke samping, melihat pantulan Liana di cermin kamar. Gaun panjangnya membentuk siluet sempurna di bawah cahaya redup, kulitnya tampak bersinar di bawah sorot lampu.
“Layanan seperti ini… selalu menenangkan,” gumam Adrian pelan.
Liana tersenyum, jemarinya tetap bekerja dengan ritme yang lambat dan sensual. “Pijatan yang baik bukan hanya tentang tekanan,” bisiknya, suaranya lebih lembut dari biasanya.
Adrian menarik napas dalam, membiarkan dirinya larut dalam momen itu—sebuah malam yang awalnya hanya untuk relaksasi, tetapi berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pijatan biasa.
Di luar, hujan masih turun deras, menutupi semua suara yang mungkin terjadi di dalam kamar hotel itu.